Translate

Monday, March 5, 2012

Tempo, Ngruki, dan Pola Pikir

membaca koran Tempo hari ini 22 Juli 2009 menjadi ingin menulis sesuatu di notes.
Halaman muka koran tempo, yang berukuran sekitar 30x50 cm ini, bergambarkan sebuah wajah, yang sama sekali akan langsung kita kenal siapa dia, Abu Bakar Ba'asyir, salah seorang pendiri pondok pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jateng. Headline dengan huruf besar tertulis "NGRUKI DISOROT". Kemudian di sebelah bawah halaman mukanya tergambar 3 wajah berstatus 1 buron, 1 tewas (Asmar Latin Sani), dan 1 narapidana. Kemudian di bawah 3 foto tersebut, terdaftar 4 nama berstatus 2 narapidana, dan 2 tewas, yang ketujuh orang tersebut disebutkan berperan/berkaitan dengan kasus terorisme di Indonesia. Ketiganya ditulis dengan judul "MEREKA PERNAH DI AL MUKMIN".
Di sebelah kiri halaman muka terurai kalimat: Nurdin Aziz, penyewa kamar 1808 di Marriot yang dipakai sebagai tempat merakit bom, diduga tak lain adalah Nur Said alias Nur Hasbi, alumnus Al-Mukmin tahun 1994 dan teman seangkatan Asmar Latin Sani. Asmar adalah eksekutor bom bunuh diri di hotel yang sama pada Agustus 2003.
Di sebelah kanan right hand halaman muka terpampang foto halaman Pondok Pesantren Al-Mukmin yang dipimpin oleh Abu Bakar Ba'asyir, berdiri pada 10 Maret 1972, dan berjumlah siswa 2.000.

Sekilas biasa, namun setelah melihat tayangan Metro TV hari ini, menjadi semakin tergelitik untuk menuliskan sesuatu di notes. Metro TV 22 Juli 2009 jam 20.30 wawancara dengan salah seorang Peneliti Jamaah Islamiyah, Edi Sudarjat, yang meyakini bahwa Pondok Pesantren Al-Mukmin bukanlah 'produsen' terorist, dengan logis mengatakan bahwa sangat tidak fair kalo kita terlalu sering menyebut-nyebut beberapa orang yang disebut terorist merupakan alumnus sebuah Pondok pesantren, dalam hal ini Al-Mukmin, Ngruki. Benar juga, coba anda lihat di media, berapa koruptor yang disebut-sebut sebagai alumnus suatu Universitas (dengan frekuensi se-intens penyebutan Al-Mukmin Ngruki sebagai tempat pernah menimba ilmu nya beberapa orang yang disebut terorist). Di kantor kita saja misalnya, andaikan ada beberapa orang yang kita kurang sukai attitudenya yang kebetulan merupakan alumnus sebuah perguruan tinggi, apakah kita akan mempunyai hidden statement dalam hati kita 'ooh.. lulusan perguruan tinggi 'x'... pantees'? bahkan kemungkinannya sangat kecil bila suatu saat terdapat pegawai baru yang ber-attitude sama (kelakuan yang kita tidak sukai) kemudian dalam pikiran kita mempolakan pendapat bahwa dia adalah lulusan perguruan tinggi 'x', meskipun memang iya.

Namun hal ini terjadi di salah sebuah koran sekaliber Tempo. Meskipun memang iya bahwa fakta-fakta itu memang relatif benar, dan dugaan-dugaan itupun relatif mungkin, namun apa iya koran Tempo mempunyai pola pikir seperti itu? (seperti yang tertulis di atas).

Belum lagi saya lanjutkan mengenai ternyata dugaan itu salah (menurut info Metro TV, detik.com, dan sumber info lain hari ini 22 Juli 2009; yang mana dugaan itu muncul di berita koran Tempo tgl 22 Juli 2009 yang merupakan berita sampaidengan/sebelum koran itu dicetak), namun sudah itu saja yang cukup membuat saya prihatin.
Prihatin mengingat tingkat interest saya dan animo masyarakat untuk membaca Koran Tempo relatif tinggi.
Di sisi lain, acung jempol untuk kebesaran hati Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki (pada umumnya), dan Abu Bakar Ba'asyir (pada khususnya).

SALUTE

:)

No comments: